Resensi

 

      

   lGambar

 

IDENTITAS BUKU

Judul Buku               : Sekadar Mendahului

Penulis                      : K.H. Abdurrahman Wahid

Penerbit                    : Penerbit Nuansa, Bandung

Cetakan                    : Pertama, Mei 2011

Tebal Buku               : 343 Halaman

Penyunting               : Tri Agus S Siswowiharjo, Marto Art

 

RESENSI

          Buku “Sekadar Mendahului” ini adalah buku yang sangat unik, bukan karena judulnya saja, tetapi juga isinya yang menarik karena berisikan serpihan-serpihan gagasan Gus Dur di berbagai buku. Melalui buku ini, pembaca bisa melihat dan menikmati butiran kata-kata mutiara penuh makna dari pemikiran Gus Dur. Buku ini juga menunjukkan kedalaman dan kemampuan intelektual Gus Dur. Melalui kata pengantar yang ada di buku ini, terlihat bahwa Gus Dur tidak ahanya seorang pemikir agama yang cerdas dan kritis tetapi lebih dari itu juga menguasai pemikiran mengenai kebudayaan dan ekonomi. Dibuktikan dengan banyaknya perspektif Gus Dur dalam memberikan kata pengantar dlam berbagai tema.

          Membaca tulisan Gus Dur dalam buku ini adalah bagaikan telaga air yang menyejukan. Gagasannya yang brilian, mudah dicerna, serta menarik pembaca untuk merenungi setiap baris kalimat serta paragraf dari tulisan-tulisannya. Terkadang Gus Dur juga membuat pikiran kita mempertanyakan sesuatu yang sudah lumrah. Gus Dur juga sering menciptakan perspektif baru mengenai sebuah permasalahan, itu yang membuat gagasan-gahasannya menarik dan kritis.

          Dalam buku ini, Gus Dur tidak hanya menyajikan gagasan para pemikir Barat saja, tetapi juga menyelami ke dalam epistemologi Nusantara. Lewat cerita-cerita rakyat yang menyentuh dirangkai dalam kata yang sederhana dan mendalam.

          Dalam kata pengantar buku Humor dan Budaya, Gus Dur mencoba menyajikan sebuah cerita-cerita masyarakat kecil, tetapi patut untuk kita teladani dan kita renungi. Dalam sebuah kisah, ada seorang raja yang bernama Gonzales sedang bertamasya berkeliling ibu kota mengendarai kuda. Tetapi ketika melewati sebuah jembatan, ia terjatuh dan terbawa arus sungai yang deras.  Hingga pada akhirnya sang raja tersebut diselamatkan oleh seorang pengail ikan yang miskin. Karena sang pengail ikan telah menyelamatkan nyawanya, sang raja telah menyiapkan hadiah yang sangat besar untuk pengail ikan.

          Namun, hal yang mengagetkan dan tidak terduga diungkapakan oleh pengail miskin itu. Ia menolah semua hadiah yang telah disiapkan untuknya. Sang pengail hanya menjawab :”Saya hanya meminta agar  sang raja tidak  menceritakan kepada siapa pun tentang peristiwa ini”. Cerita humor yang diangkat dari kisah nyata ini seakan menyadarkan kita serta meberikan kritikan yang tajam kepada kita mengenai hal-hal dalam kehidupan. Orang kecil pun ( miskin ) memiliki caranya sendiri untuk menunjukkan kearifan mereka.

          Cerita humor yang berbeda juga disajikan oleh Gus Dur, misalnya lelucon bangkitnya Lenin dari mausoleum di Kremlin. Presiden Rusia yang meninggal pada tahun 1924, mendadak bangkit dan membuat pusing seluruh rakyat Rusia. Kebangkitan Lenin ini mendadak aneh. Murung  di kamar dan tidak bisa diganggu. Pada akhirnya para prajurit mendobrak pintu kamar. Anehnya, sang presiden tidak ada di dalam kamar, tetapi ditengah kertas-kertas berserakan dan di meja ditinggalkannya secarik kertas, berisikan pesan : “ Revolusi Telah Gagal. Saya Akan Kembali Ke Jenewa Untuk Mempersiapkan Revolusi Lagi.

          Rasa humor dari sebuah masyarakat mencerminkan daya tahannya yang tinggi di hadapan semua kepahitan dan kesengsaraan. Kemampuan untuk menertawakan diri sendiri adalah petunjuk adanya keseimbangan antara tuntutan kebutuhan dan rasa hati di satu pihak dan kesadaran akan keterbatasan diri pihak lain. Kepahitan akibat kesengsaraan, diimbangi oleh pengetahuan nyata akan keharusan menerima kesengsaraan tanpa patahnya semangat untuk hidup. Dengan demikian humor adalah sublimasi dari kearifan sebuah masyarakat.

          Dalam kata pengantar Gus Dur  di buku Y.B. Mangunwijaya, Menumbuhkan Sikap Religius Anak-anak, beliau memaparkan salah satu ciri utama agama adalah universalitas ajarannya, sehingga melampaui batas-batas perbedaan antarmanusia. Jika ini tidak terjangkau oleh pemahaman agama yang disebutkan di atas, dengan sendirinya peranan agama yang disebutkan di atas, dengan sendirinya peranan agama lalu diciutkan, yaitu hanya untuk membebaskan sekelompok manusia saja, bukannya membebaskan keseluruhan umat manusia dari kungkungan kemanusian yang penuh keterbatasan. Manusia yang tidak mampu membebaskan diri dari kungkungan itu sudah tentu tidak dapat mengangkat diri menuju pengemabangan sifat-sifat keilahian yang hakiki dalam dirinya, padahal itulah yang justru diminta oleh agama dari manusia. Jadilah bayangan Tuhanmu, agar kau mampu mencintai-Nya, adalah inti dari imbauan agama kepada manusia. Bagaimana mungkin kau mencapai derajat kecintaan kepada Tuhan dalam ukuran paling tepat, kalau kau tidak mencintai manusia secara umum, karena Tuhan justru mencintai mereka.

          Tuhan terkait sepenuhnya dengan percontohan yang harus diberikan tentang bagaimana seharusnya bergaul dengan Tuhan. Keteladanan adalah kata kunci dari kerja mengemangkan regiositas dalam diri anak. Keimanan anak adalah sesuatu yang tumbuh dari pelaksanaan nyata, walaupun dalam bentuk dan cakupan sederhana, dari apa yang diajarkan. Tuhan milik anak, bukan hanya Tuhan milik kaum agamawan, apalagi Tuhan yang dimonopoli para teolog. Tuhan yang menjadi milik anak. Menjadikan Tuhan milik anak, agar anak menjadi milih Tuhan, kalau meminjam peristilahan masa kini.

          Membicarakan kata pengantar Gus Dur dalam buku politik juga tidak kalah menariknya juga tentang humor. Tawaran Gus Dur tentang perpolitikan negeri ini, hasil dari pertikaian beda ideologi, kelompok, partai politik serta kepentingan dan kebijakan menjadi kajian Gus Dur dalam mengantarkan buku Ribka Tjiptaning dengan judul buku “Aku Bangga Menjadi Anak PKI”. Gus Dur berpendapat dalam hal-hal yang bertentangan dalam pandangan politik bisa dipersatukan dalam bingkai kemanusiaan. Rasa kemanusiaan inilah yang pada akhirnya memberikan titik temu dari segala pertentangan-pertentangan politik yang ada.

          Gus dur juga megeksplorasi tentang kehidupan adinistrasi bangsa Indonesia yang menyoroti hubungan antara reformasi administrasi sebuah negara dengan dunia politik pada tingkat nasional. Perlu ditekankan kenyataan bahwa orientasi kehidupan suatu negara juga sangat ditentukan oleh kebijakan seorang penguasa. Titik awal itu di mulai dari pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo abad ke-17. Ketika armada laut yang dia kirim untuk merebut Batavia dihancurkan di Kepulauan Seribu. Ia langsung mengubah orientasi kehidupan seluruh kawasan dalam kekuasaannya menjadi berorientasi darat. Hal ini diperkuat oleh adagium terkenal yang diciptakan oleh Empu Tantular dari Majapahit, “Bhinneka Tunggal Ika” atu “Berbeda Namun Tetap Satu”. Administrasi negara kita sebagai bangsa harus ditata kembali agar tidak merusak pola kehidupan kita sebagai bangsa di alam modern ini.

          Kata pengantar Gus Dur mengenai titik tolah demokrasi dan sikap menolak kekerasan mengatakan bahwa kediktatoran selamanya bersifat militeristik, walaupun baju yang digunakan tidak selalu disebut demikian. Apapun klaim yang diajukan tentang penentuan sikap ataupun pengambikan keputusan dalam proses yang pada dasarnya mengingkari hak orang banyak itu, keabsahan sikap atau keputusan itu sendiri tidak pernah dapat diuji secara terbuka, melainkan dicapai melalui proses yang sangat tertutup. Karena itulah, hakikat dari kediktatoran adalah penolakan terhadap pluralitas pandangan atau keragaman pandangan dan pendapat. Masyarakat yang memperkenankan perbedaan pendapat dan menerima keragaman sikap sebagai sesuatu yang wajar pada hakikatnya mengajukan penolakan terhadap sistem pemerintahan diktatorial. Perjuangan menegakkan masyarakat pluralistik tanpa menggunakan kekerasan dan bertumpu pada ketabahan untuk menegakkan pandangan yang obyektif dan dengan sendirinya pluralistik terhadap kebenaran adalah satu-satunya jalan untuk menegakkan demokrasi.

          Kata pengantar Gus Dur mengenai musuh dalam selimut, memaparkan bahwa hawa nafsu adalah suatu kekuatan yang selalu menyimpan potensi dsruktif dan membuat jiwa selalu resah, gelisah dan tidak pernah tenang. Dalam perspektif ini ada dua kategori manusia: Pertama, orang-orang yang sudah mampu menjinakkan hawa nafsunya sehingga bisa memberi manfaat kepada siapa pun. Kedua, mereka yang masih dikuasai hawa nafsu sehingga selalu menjadi biang keresahan dan masalah bagi siapa pun. Pada kenyataannya, pertentangan antara jiwa-jiwa yang tenang dengan jiwa-jiwa yang resah ini mewarnai sejarah semua penjuru dunia. Namun suatu hal yang unik dari Nusantara adalah, sekalipun pertentangan semacam ini terjadi berulang-ulang sejak masa nenek moyang bangsa Indonesia, ajaran spiritual dan nilai-nilai luhur jiwa-jiwa yang tenang tetap dominan di tanah air kita.

          Dalam kata pengantar buku NU dan Gus Dur, beliau berusaha menyajikan gambaran menarik tentang perkembangan NU baik secara politik maupun moral. Dijelaskan bahwa karakteristik NU sebagai suatu gerakan Islam tradisional. Orientasi kalangan tradisionalis pada umumnya dianggap lebih terbelakang dan cenderung mapan dalam pemahaman mengenai masyarakat dan pemikiran Islam. Ajaran-ajaran ASWAJA yang menjadi rujukan kalangan tradisionalis menampilkan kedalaman kemampuan NU dalam mempertahankan tradisi yang dimilikinya dalam menghadapi perubahan yang mengguncang dunia Muslim lebih dari satu setengah abad yang lalu.

          Peranan NU dalam Indonesia kontemporer adalah melakukan perubahan-perubahan dalam sikap dan pandangan dunia banyak kalangan Muslim, khususnya dalam beradaptasi dengan tantangan-tantangan modernisasi. Kemampuan untuk mengembangkan respons yang positif terhadap perubahan-perubahan modernis ini bertumpu pada ajaran-ajaran inti NU dalam menahan pengaruh pembaratan masyarakat secara penuh.

          Membicarakan kata pengantar Gus Dur dalam buku agama dan pluralisme mengenai komplementer ataukah alternatif. Kenyataan bahwa Islam membawakan manifestasi komplementer dalam kehidupan. Tapi ia juga berarti adanya pandangan bahwa Islam itu alternatif terhadap nilai-nilai lain. Ada dua macam pandangan yang menunjukan adanya watak komplementer. Maksudnya dalam komplementasi yang dibawakan Islam itu,, juga terkandung pandangan berbenturan yang diambilkan dari ajran-ajaran Islam. Ada kalanya, yang digunakan adalah pendekatan komplementer, tetapi adakalanya pula pendekatan alternatif, yang menghadapkan budaya yang berbeda-beda.

          Dalam kata pengantar Gus Dur di buku biografimengenai Mbah Muntaha dan tradisi Kiai. Mbah Muntaha merupakan perwujudan dari “tradisi yang sangat besar”. Kita harus berhati-hati, jangan sampai agama jadi alatpolitik. Partai politik berdasarkan agama boleh-boleh saja. Tetapi partai politik harus mendasarkan progamnya pada kepentingan nyata masyarakat, bukan pada ajaran agama yang resmi. Jadi, agamadalam pelaksanaannya; bukan dalam perumusannya.

          Keikhlasan. Inilah yang menurut saya menjadi maziyah atau keistimewaan dari kiai-kiai pondok pesantren, termasuk Mbah Muntaha. Semua kesederhanaan dan kesungguhan mengabdi kepada masyarakat, terkumpuldalam tokoh kita mengasuh Pondok Pesantren Al-Asy’ariyah ini ( Mbah Muntaha ). Mbah Muntaha ini terikat dengan kode etik yang sangat kaku, yaitu ke-kiai-an (saking getolnya dengan NU) itu sendiri.

          Refleksi tulisan-tulisan yang ada di dalam buku ini sangatlah menarik untuk direnungi kembali dan membangun kehidupan bangsa dan negara. Kata pengantar Gus Dur ini memerikan pencerahan tentang nasionalisme dan wawasan kebangsaan, juga mengenai keagamaan.

        Kelebihan dari buku ini adalah kita mampu mencerna dan memahami apa yang ada di dalamnya, kita juga bisa melihat kecerdasan dan intelektualitas yang dmiliki oleh Gus Dur.

         

Struktur Organisasi NU

STRUKTUR ORGANISASI NU

TUJUAN

—  Untuk memudahkan dalam mengelola dan mengatur organisasi

—  Memudahkan dalam pengembangan NU

—  Mensukseskan organisasi NU

—  Menegakkan ajaran Islam menurut paham Ahlussunnah waljama’ah di tengah-tengah kehidupan masyarakat, di dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Usaha Dibidang Organisasi :

  1. Di bidang agama, melaksanakan dakwah Islamiyah dan meningkatkan rasa persaudaraan yang berpijak pada semangat persatuan dalam perbedaan.
  2. Di bidang pendidikan, menyelenggarakan pendidikan yang sesuai dengan nilai-nilai Islam, untuk membentuk muslim yang bertakwa, berbudi luhur, berpengetahuan luas.Hal ini terbukti dengan lahirnya Lembaga-lembaga Pendidikan yang bernuansa NU dan sudah tersebar di berbagai daerah khususnya di Pulau Jawa.
  3. Di bidang sosial budaya, mengusahakan kesejahteraan rakyat serta kebudayaan yang sesuai dengan nilai keislaman dan kemanusiaan.
  4. Di bidang ekonomi, mengusahakan pemerataan kesempatan untuk menikmati hasil pembangunan, dengan mengutamakan berkembangnya ekonomi rakyat.Hal ini ditandai dengan lahirnya BMT dan Badan Keuangan lain yang yang telah terbukti membantu masyarakat.
  5. Mengembangkan usaha lain yang bermanfaat bagi masyarakat luas. NU berusaha mengabdi dan menjadi yang terbaik bagi masyrakat.

 

STRUKTUR ORGANISASI

  • Pengurus PBNU ditingkat  pusat

Pengurus Wilayah (PWNU) ditingkat Propinsi/Wilayah, terdapat 33 Wilayah.
Pengurus Cabang (PCNU) ditingkat Kabupaten/Kota  atau Pengurus Cabang Istimewa untuk kepengurusan di luar negeri, terdapat 439 Cabang dan 15 Cabang Istimewa.
Pengurus Majlis Wakil Cabang (MWC) ditingkat Kecamatan, terdapat 5.450 Majelis Wakil Cabang.
Pengurus Ranting (tingkat Desa / Kelurahan), terdapat 47.125 Ranting.

 

  • Pengurus PBNU :
  • Pengurus Besar Nahdlatul Ulama
  • Terletak di Ibukota NKRI
  • Pusat Kepengurusan NU
  • Penanggung Jawab dan Pengendali Kegiatan NU
  • Pelaksana Keputusan Muktamar

 

Pengurus PWNU :

  • Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama
  • Tingkat Provinsi
  • Terletak di Ibukota Provinsi
  • Sebagai Koordinator Cabang dan Sebagai Pelaksana Pengurus Besar

 

Pengurus PCNU :

  • Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama
  • Tingkat Kabupaten
  • Memimpin dan Mengoodinir Majelis Wakil Cabang dan Ranting
  • Melaksanakan Kebijaksanaan Pengurus Wilayah dan Pengurus Besar

 

Pengurus PCINU :

—  Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama

—  Terletak di Luar Negri

—  Kewenagannya di setarkan PCNU

—  Terdapat 20 Cabang (Mesir, Maroko, Sudan, Suriah, Tunis, Aljazair, Yordania, Saudi Arabia, Yaman, Malaysia, Amerika-Kanada, Australia-Selandia Baru, Korea, Taiwan, Jepang, Jerman, Rusia, Inggris, Belanda, Pakistan, Turki dan Lebanon.

 

Pengurus MWCNU :

  • Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama
  • Tingkat Kecamatan
  • Penegas Tugas dan Mengkoordinir Ranting
  • Melaksanakan Kebijakan Pengurus di Atasnya

 

Pengurus RANTING :

  • Tingkat Desa
  • Terdapat Kelompok Anak Ranting (KAR) Jika diperlukan
  • Dalam KAR Hanya Ada Ketua

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel Struktur NU

 

 

STRUKTUR LEMBAGA KEPENGURUSAN NU

 

Untuk PBNU, PWNU, PCNU, PCINU, dan MWCNU

  • Mustasyar (Penasehat)
  • Syuriyah (Pimpinan tertinggi)
  • Tanfidziyah (Pelaksana Harian)

RANTING

  • Syuriyah (Pimpinan tertinggi)
  • Tanfidziyah (Pelaksana harian)

 

MUTASYAR

Mustasyar adalah pengurus yang membimbing, mengendalikan, mengontrol, dan menjaga kemurnian khithah siyah dan prinsip perjuangan organisasi.

Atau bisa diartikan dengan pengurus  yang bertugas memberikan nasehat kepada pengurus baik diminta atau tidak.

 

SYURIAH

Syuriah adalah pimpinan tinggi yang membuat dan menetapkan pedoman umum sebagai rujukan utama pelaksanaan kebijakan-kebijakan sesuai dengan petunjuk yang ditetapkan Mustasyar.

SYURIYAH
Pengurus Syuriyah selaku pimpinan tertinggi sebagai pembina, pengendali, pengawas dan penentu kebijakan mempunyai tugas dan wewenang.

 

Tugas  dan wewenang diantaranya :
1. Menentukan arah kebijakan dalam melakukan usaha dan tindakan untuk mencapai tujuan.
2. Memberikan petunjuk, bimbingan dan pembinaan pemahaman, pengamalan dan pengembangan ajaran Islam   berdasar faham Ahlussunah wal Jamaah.
3. Mengendalikan, mengawasi dan memberikan koreksi sesuai dengan ketentuan organisasi.
4. Membatalkan keputusan lembaga.

 

Dalam pembagiannya pengurus syuriyah terdiri dari:
1. Rais: sebagai pemegang kebijakan tertinggi organisasi.

2. Wakil Rais; membantu Rais dalam bertugas.

3. Katib: sebagai koordinator keadministrasian kebijakan yang diputuskan.

4. Wakil Katib: membantu Katib dalam bertugas.

5. A’wan: memberi masukan Rais dalam mengambil kebijakan organisasi

 

TANFIDZIYAH

Tanfidziyah adalah pimpinan eksekutif  yang menjalankan kebijakan-kebijakan yang telah disepakati oleh Syuriah dan disetujui Mustasyar serta mengelola organisasi sesuai program organisasi.

Terdiri dari:

  • Ketua Umum
  • Beberapa Ketua
  • Sekretaris Jenderal
  • Beberapa wakil Sekretaris Jendral
  • Bendahara
  • Beberapa wakil bendahara

 

Pengurus Tanfidziyah sebagai pelaksana mempunyai tugas:
1. Memimpin jalannya organisasi sesuai dengan kebijakan yang ditentukan oleh Pengurus Syuriyah.
2. Melaksanakan program Jam’iyah Nahdlatul Ulama.
3. Membina dan mengawasi kegiatan yang dilakukan Lembaga atau perangkat dibawahnya.
4. Menyampaikan laporan secara periodik kepada Pengurus Syuriyah tentang pelaksanaan tugasnya.

 

Dalam pembagian tugasnya, Pengurus Tanfidziyah:
Ketua; sebagai penanggungjawab atas semua kegiatan dan melakukan koordinasi dengan semua Ketua Lembaga agar semua aktifitas berjalan dengan lancar dan sukses.
Wakil Ketua, membantu tugas Ketua, dan berkoordinasi dengan salah satu Ketua Lembaga.
Sekretaris, sebagai penanggungjawab atas semua proses administrasi, dokumentasi dan publikasi semua kegiatan organisasi.
Wakil Sekretaris, membantu tugas Sekretaris, dan sebagai sekretaris dari salah satu Lembaga.
Bendahara, sebagai penanggungjawab atas pengelolaan dan pencatatan keuangan organisasi, dan membuat laporan tertulis kondisi keuangan organisasi setiap bulannya.
Wakil Bendahara, membantu tugas Bendahara, dan sebagai bendahara salah satu Lembaga.
Ketua Lembaga, sebagai penanggungjawab atas berjalannya fungsi/tugas lembaga, dan mengkoordinasi semua kegaitan lembaga.
Anggota Lembaga, membantu Ketua Lembaga dalam menyukseskan semua kegiatan.

 

Syarat Menjadi Pengurus NU

  • RANTING/MWCNU     => Aktif 1 tahun
  • PCNU/PCINU               => Aktif 2 tahun
  • PWNU                          => Aktif 3 tahun
  • PBNU                           => Aktif 4 tahun
  • Kehormatan Tidak di Perkenankan

 

Berikut ini adalah daftar Ketua Rais Aam (pimpinan tertinggi) Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama:

No

Nama

Awal Jabatan

Akhir Jabatan

1

KH Mohammad Hasyim Asy’arie

1926

1947

2

KH Abdul Wahab Chasbullah

1947

1971

3

KH Bisri Syansuri

1972

1980

4

KH Muhammad Ali Maksum

1980

1984

5

KH Achmad Muhammad Hasan Siddiq

1984

1991

6

KH Ali Yafie (pjs)

1991

1992

7

KH Mohammad Ilyas Ruhiat

1992

1999

8

KH Mohammad Ahmad Sahal Mahfudz

1999

Petahana

Konversi Agama

Konversi Agama

Dengan berakhirnya masa remaja, maka berakhir pulalah kegoncangan-kegoncangan jiwa yang menyertai pertumbuhan remaja itu. Orang yang telah melewati usia remaja, mempunyai ketentraman jiwa, ketetapan hati dan kepercayaan yang tegas, baik dalam bentuk positif, maupun negatif. Dalam kenyataan hidup sehari-hari, masih banyak orang yang merasakan kegoncangan jiwa pada usia dewasa. Perubahan-perubahan kepercayaan dan keyakinan kadang-kadang masih terjadi.
Dari segi Ilmu Jiwa Agama, perubahan-perubahan keyakinan atau jiwa agama pada orang dewasa bukanlah suatu hal yang terjadi secara kebetulan saja, akan tetapi adalah suatu kejadian yang didahului oleh berbagai proses dan kondisi yang dapat diteliti dan dipelajari. Perkembangan jiwa agama pada orang dewasa dinamakan “Konversi Agama”.

a. Pengertian Konversi Agama
Konversi agama secara umum bisa diartikan dengan berubah agama ataupun masuk agama.
1. Pengertian konversi agama menurut etimologi konversi berasal dari kata lain “Conversio” yang berarti: tobat, pindah dan berubah ( agama ). Dalam kata Inggris “Conversion” ( berubah dari suatu keadaan atau dari suatu agama ke agama lain.
Berdasarkan kata-kata tersebut dapat disimpulkan bahwa konversi agama adalah bertobat, berubah agama, berbalik pendirian terhadap ajaran agama atau masuk ke dalam agama.
2. Pengertian konversi agama menurut terminologi. Max Heirich mengatakan konversi agama adalah suatu tindakan di mana seseorang atau sekelompok orang masuk atau berpindah ke suatu sistem kepercayaan atau perilaku yang berlawanan dengan kepercayaan sebelumnya.
Konversi agama banyak menyangkut masalah kejiwaan dan pengaruh lingkungan tempat berbeda. Konversi agama yang yang dimaksudkan uraian di atas memuat beberapa pengertian dengan ciri-ciri:
• Adanya perubahan arah pandangan dan keyakinan seseorang terhadap agama dan kepercayaan yang dianutnya.
• Perubahan yang terjadi dipengaruhi kondisi kejiwaan sehingga perubahan dapat terjadi secara berproses atau secara mendadak.
• Perubahan tersebut bukan hanya berlaku bagi perpindahan kepercayaan dari suatu agama ke agama lain, tetapi juga termasuk perubahan pandangan terhadap agama yang dianutnya sendiri.
• Selain faktor kejiwaan dan kondisi lingkungan maka perubahan itu pun disebabkan faktor petunjuk dari Yang Maha Kuasa.

b. Proses Konversi Agama
Dalam membicarakan proses terjadinya proses konversi agama, sukar untuk menentukan satu garis, rentetan proses yang akhirnya membawa kepada keadaan keyakinan yang berlawanan dengan keyakinannya yang lain. Proses ini berbeda antara satu orang dengan lainnya, sesuai dengan pertumbuhan jiwa, serta pengalaman dan pendidikan yang diterimanya sejak kecil dengan suasana lingkungan. Konversi agama itu banyak terjadi dalam hidup, terutama apabila orang mengalami kesusahan.

M.T.L Penido berpendapat bahwa konversi agama mengandung dua unsur yaitu:
1) Unsur dari dalam (endogenos origin ), yitu proses perubahan yang terjadi dalam diri seseorang atau kelompok, yang terjadi dalam batin membentuk suatu kesadaran untuk mengadakan suatu tranformasi disebabkan oleh krisis yang terjadi dan keputusan yang diambil seseorang berdasarkan pertimbangan pribadi. Menurut gejala psikologis yang bereaksi dalam bentuk hancurnya struktur psikologis yang lama dan seiring dengan proses tersebut muncul pula struktur psikologis baru yang dipilih.
2) Unsur dari luar ( exogenos origin ), yaitu proses perubahan yang berasal dari luar diri atau kelompok, sehingga mampu menguasai kesadaran orang atau kelompok yang bersangkutan. Kekuatan ini menekan pengaruhnya terhadap kesadaran, berupa tekanan batin, sehingga memerlukan penyelesaian oleh yang bersangkutan.
Dr. Zakiah Daradjat memberikan pendapatnya yang berdasarkan proses kejiwaan yang terjadi melalui 5 tahap, yaitu:
1. Masa tenang, dimana segala sikap, tingkah laku dan sifat-sifatnya acuh tak acuh menentang agama.
2. Masa ketidaktenangan, tahap ini berlangsung jika masalah agama telah mempengaruhi batinnya. Biasanya orang mudah perasa, cepat tersinggung dan hampir-hampir pustus asa dalam hidupnya dan mudah terkena sugesti. Pada tahap ini terjadi proses pemilihan terhadap ide atau kepercayaan baru untuk mengatasi konflik batinnya.
3. Masa konversi, orang merasa tiba-tiba mendapat petunjuk Tuhan. Tahap ini terjadi setelah konflik batin mengalami keredaan, karena kemantapan batin telah terpenuhi berupa kemampuan menentukan keputusan untuk memilih yang dianggap serasi atau pun timbulnya rasa pasrah dalam menyelesaikan pertentangan batin yang terjadi sehingga terciptalah ketenangan batin.
4. Masa tenang dan tentram, masa ini berbeda dengan tahap sbelumnya. Jika pada tahap pertama keadaan itu dialami karena sikap yang acuh tak acuh, maka ketenangan dan ketentraman pada tahap ini ditimbulkan oleh kepuasan terhadap keputusan yang sudah diambil, karena telah mampu membawa suasana batin menjadi mantap sebagai pernyataan menerima konsep baru.
5. Masa Ekspresi konversi. Tingkat terakhir dari konversi itu adalah pengungkapan konversi agama dalam tindak tanduk, kelakuan, sikap dan perkataan, dan seluruh jalan hidupnya berubah mengikuti aturan-aturan yang diajarkan oleh agama. Pencerminan ajaran dalam bentuk amal perbuatan yang serasi dan relevan sekaligus merupakan pernyataan konversi agama itu dalam kehidupan.

c. Faktor Yang Mempengaruhi Konversi Agama
Ada beberapa faktor yang terjadi dalam setiap peristiwa konversi agam, antara lain:
a) Pertentangan batin ( konflik jiwa ) dan ketegangan perasaan.
Orang-orang yang gelisah, yang di dalam dirinya bertarung berbagai persoalan yang kadang-kadang dia merasa tidak berdaya menghadapi persoalan atau problema itu mudah mengalami konversi agama. Diantaranya ialah tidak mampunya ia mematuhi nilai-nilai moral dan agama dalam hidupnya. Ia tahu bahwa yang slah itu slah, akan tetapi ia tidak mampu menghindarkan dirinya dari berbuat salah itu, dan ia tahu mana yang benar, akan tetapi tidak mampu berbuat benar. Sering pula terasa ketegangan batin yang memukul jiwa, merasa tidak tentram, gelisah, yang kadang-kadang terasa ada sebabnya dan kadang-kadang tidak diketahui. Dalam semua konversi agama, boleh dikatakan, latar belakang yang terpokok adalah konflik jiwa ( pertentangan batin) dan ketegangan perasaan, yang mungkin disebabkan oleh berbagai keadaan.
b) Pengaruh hubungan dengan tradisi agama.
Apa sebab pendidikan dan suasana keluarga di waktu kecil itu mempunyai pengaruh yang besar terhadap diri orang-orang, yang kemudian terjadi padanya konversi agama, adalah keadaan mengalami ketegangan dan konflik batin itu, sangat tidak bisa, mau tidak mau, pengalaman di waktu kecil dekat orang tua dalam suasana yang tenang dan aman damai akan teringat dan membayang-bayang secara tidak sadar dalam dirinya. Keadaan inilah yang dalam peristiwa-peristiwa tertentu menyebabkan konversi tiba-tiba terjadi.
c) Ajakan/seruan dan sugesti
Terbukti bahwa di antara peristiwa konversi agama, terjadi karena sugesti dan bujukan dari luar. Pengaruh sugesti dan bujukan itu, pada mulanya dangkal saja, tidak sampai kepada perubahan kepribadian, namun jika orang yang mengalami konversi itu, dapat merasakan kelegaan dan ketentraman batin dalam keyakinan yang baru, lama kelamaan akan masuklah keyakinan itu ke dalam keprbadiannya.
d) Faktor-faktor emosi
Dalam penelitian George A. Coe terhadap orang-orang yang mengalami peristiwa konversi agama, ditemukannyalah bahwa konversi agama lebih banyak terjadi pada orang-orang yang dikuasai oleh emosinya. Orang-orang yang emosionil (lebih sensitif atau banyak dikuasai oleh emosinya), mudah kena sugesti, apabila ia sedang mrngalami kegelisahan . faktor emosi, secara lahir tampaknya tidak terlalu banyak pengaruhnya, namun dapat dibuktikan bahwa, ia adalah salah satu faktor yang ikut mendorong kepada terjadinya konversi agama, apabila ia sedang mengalami kekecewaan.
e) Kemauan
Rupanya kemauan juga memainkan peranan penting dalam konversi agama. Di mana dalam beberapa kasus, terbukti bahwa peristiwa konversi itu terjadi sebagai hasil dari perjuangan batin yang ingin mengalami konversi.

Fonologi Bahasa Indonesia

FONOLOGI BAHASA INDONESIA
Istilah fonologi berasal dari gabungan kata Yunani phone yang berarti ‘bunyi’ dan logos yang berarti ‘tatanan,kata, atau ilmu’, disebut juga ‘tata bunyi’.
Fonologi adalah bagian tata bahasa atau ilmu bahasa yang menganalisis bunyi bahasa secara umum, baik bunyi bahasa yang memperdulikan arti (fonetik) maupun tidak (fonemik).

BAB I : PRODUKSI BUNYI BAHASA
A. Pengertian Bunyi Bahasa
Bunyi bahasa adalah bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Bunyi bahasa dapat juga diartikan sebagai bunyi yang diartikulasikan yang menghasilkan gelombang bunyi sehingga dapat diterima oleh telinga manusia.
B. Kajian Bunyi Bahasa
Fonetik merupakan kajian mengenai bunyi bahasa, yaitu ilmu bahasa yang membahas bunyi-bunyi bahasa yang dihasilkan alat ucap manusia serta bagaimana bunyi itu dihasilkan. Macam-macam fonetik:
a. Fonetik Artikulatoris
b. Fonetik Akustis
c. Fonetik Auditoris
C. Pembentukan Bunyi Bahasa
Dalam proses pembentukan bunyi bahasa ada tiga faktor yang terlibat, yaitu:
1. Sumber tenaga (udara yang dihembuskan oleh paru-paru)
2. Alat ucap yang dilewati udara dari paru-paru (batang tenggorok, kerongkongan, rongga mulut dan rongga hidung)
3. Artikulator (penghambat)
Proses pembentukan bahasa melibatkan empat komponen, yaitu proses aliran udara, proses fonansi, proses artikulasi dan proses orsonal. Produksi bunyi melibatkan alat-alat ucap di sekitar mulut, hidung dan tenggorokan.
D. Pembentukan Vokal
a. Berdasarkan posisi bibir
• Vokal bulat, yaitu vokal yang diucapkan dengan bentuk bibir bulat. Misalnya: vokal [u], [o], dan [a].
• Vokal tak bulat, yaitu vokal yang diucapkan dengan bentuk bibir tidak bulat atau melebar. Misalnya : [I] dan [e].
b. Berdasarkan tinggi rendahnya lidah
• Vokal tinggi, yaitu vokal yang dibentuk jika rahang bawah merapat ke rahang atas: [I] dan [u].
• Vokal madya, yaitu vokal yang dibentuk jika rahang bawah menjauh sedikit dari rahang atas: [a]
• Vokal rendah, yaitu vokal yang dibentuk jika rahang bawah dimundurkan lagi sejauh-jauhnya.
c. Berdasarkan maju mundurnya lidah
• Vokal depan, yaitu vokal yang dihasilkan oleh gerakan naik turunnya lidah bagian depan: [i] dan [e].
• Vokal tengah, yaitu vokal yang dihasilkan oleh gerakan lidah bagian tengah: [a]
• Vokal belakang, yaitu vokal yang dihasilkan oleh gerakan naik turunnya lidah bagian belakang: [u] dan [o].
d. Berdasarkan strikturnya
Striktur : keadaan hubungan posisional artikulator (aktif) dengan artikulator pasif atau titik artikulasi.
• Vokal tertutup, yaitu vokal yang dibentuk dengan lidah diangkat setinggi mungkin mendekati langit-langit dalam batas vokal [i] dan [u]
• Vokal semi tertutup, yaitu vokal yang dibentuk dengam lidah diangkat dua pertiga di atas vokal paling rendah.
• Vokal semi terbuka, yaitu vokal yang dibentuk dengan lidah diangkat dalam ketinggian sepertiga di atas vokal paling rendah: [I] dan [o].
• Vokal terbuka, yaitu vokal yang dibentuk dengan lidah dalam posisi serendah mungkin: [a] dan [A].

BAB II: PENGARUH BUNYI BAHASA
A. Proses Asimilasi
Proses asimilasi adalah pengaruh yang mempengaruhi bunyi tanpa mempengaruhi identitas fonem dan terbatas pada asimilasai fonetis saja.
B. Artikulasi Penyerta
Proses pengaruh bunyi yang disebabkan oleh artikulasi ini dibedakan menjadi:
a. Labialisasi, yaitu pembulatan pada bibir pada artikulasi primer sehingga terdengar bunyi semivokal [w] pada bunyi utama tersebut.
b. Retofleksi, yaitu penarikan ujung lidah ke belakang pada artikulasi primer, sehingga terdengar bunyi [r] pada bunyi utama.
c. Palatalisasi, yaitu pengangkatan daun lidah ke arah langit-langit keras pada artikulasi primer.
d. Velarisasi, yaitu pengangkatan pangkal lidah ke arah langit-langit lunak pada artikulasi primer.
e. Glotalisasi, yaitu proses penyerta hambatan pada glottis atau glottis tertutup rapat sewaktu artikulasi primer diucapkan.

BAB III: FONEMIK : KAJIAN FONEM
A. Pengertian Fonem dan Fonemisasi
Fonem adalah satuan bunyi bahasa terkecil yang bersifat fungsional, artinya satuan memiliki fungsi untuk membedakan makna.

Fenemisasi adalah usaha untuk menemukan bunyi-bunyi yang berfungsi dalam rangka pembedaan makna tersebut.
B. Pengenalan Fonem
Dalam mengenali fonem terdapat beberapa pokok pikiran umum yang disebut premis-premis fonologis. Berdasarkan sifat umumnya premis-premis bahasa tersebut adalah sebagai berikut:
a. Bunyi bahasa mempunyai kecenderungan untuk dipengaruhi oleh lingkunganya.
b. Sistem bunyi mempunyai kecenderungan bersifat simetris.
c. Bunyi-bunyi bahasa yang secara fonetis mirip harus digolongkan ke dalam kelas-kelas bunyi (fonem) yeng berbeda, apabila terdapat pertentangan di dalam lingkungan yang sama.
d. Bunyi-bunyi yang secara fonetis mirip dan terdapat di dalam distribusi yang kompementer, harus dimasukan ke dalam kelas-kelas bunyi (fonem) yang sama.
C. Variasi Fonem
Variasi fonem ditentukan oleh lingkungan dalam distribusi yang komplementer disebut variasi alofonis. Variasi fonem yang tidak membedakan bentuk dan arti kata disebut alofon.
a. Alofon Vocal,
b. Alofon konsonan
D. Gejala Fonologis
a. Netralisasi dan Arkifonem
Netralisasi adalah alternasi fonem akibat pengaruh lingkungan atau pembatalan perbedaan minimal fonem pada posisi tertentu.
Arkifonem adalah golongan fonem yang kehilangan kontraspada posisi tertentu dan biasa dilambangkan dengan huruf besar
b. Pelepasan Fonem dan Kontraksi
Peleppasan bunyi adalah hilangnya bunyi atau fonem pada awal, tengah dan akhir sebuah kata tanpa mengubah makna.
c. Disimilasi
Disimilasi adalah perubahan bentuk kata karena salah satu dari dua buah fonem yang sama diganti dengan fonem yang lain.
d. Metatesis
Dalam proses metatesis yang diubah adalah urutan fonem-fonem tertentu yang biasanya terdapat bersama dengan bentuk asli, sehingga ada variasi bebas.
e. Penambahan Fonem
Berdasarkan letaknya, penambahan fonem dibedakan menjadi:
a) Protesis, yaitu penambahan fonem di awal kata
b) Epentesis, yaitu penambahan fonem di tengah kata.
c) Paragoge, yaitu penambahan fonem di akhir kata.

BAB IV : FONOTAKTIK DAN DISTRIBUSI FONEM
A. Fonotaktik
Fonotaktik adalah bidang fonologi atau fonemik yang mengatur tentang penjejeran fonem dalam kata. Contohnya, kata pertandingan memiliki 12 fonem. Jejeran fonem dari kata tersebut adalah /p,e,r,t,a,n,d,i,n,g,a,n/.

B. Distribusi Fonem
Distribusi fonem adalah bagian yang membahas posisi fonem apakah fonem tersebut terletak pada bagian awal, tengah atau akhir dalam sebuah kata.